71 tahun NKRI






Dunia terus berputar. Pendidikan terus berkembang mengikuti zamannya. Jika dulu teknologi tak sehebat sekarang, namun banyak melahirkan tokoh-tokoh bangsa. Mereka berjuang bukan hanya untuk dirinya namun mengangkat martabat bangsa.
Kini, sumber daya manusia menjadi satu-satunya aset paling berharga bangsa kita.” Sumber daya alam kita sudah dikuasai asing.”
Bidang perbankan misalnya, asing telah menguasai lebih dari 50 persen. Migas dan batu bara antara 70-75 persen, telekomunikasi antara 70 persen dan lebih parah lagi adalah pertambangan emas dan tembaga yang dikuasi mencapai 80-85 persen. Kecuali sektor perkebunan dan pertanian asing baru menguasai 40 persen.
Kondisi ini tentu mengkhawatirkan bangsa ke depan. Akan seperti apa nasib anak cucu kita?
Tak bisa tidak kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan harus terus ditingkatkan. Ini mutlak kita perkuat. Tantangan generasi tentang kualitas intelektual juga dihadapkan dengan era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Jaringan internasionalisasi dalam segala bidang menuntut kita harus bisa kokoh di negara sendiri dan berjaya di dunia. Pendidikan tidak hanya tanggung jawab pemerintah, namun ada peran kolektif stakeholder.
Maka , “ Sembilan program Nawa Cita “(The vision of changes with nine programs participating encourage NAWA CITA) menjadikan sangat relefan arti kemerdekaan itu sendiri.
Program ini digagas untuk menunjukkan prioritas jalan perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, serta mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.
1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara, melalui politik luar negeri bebas aktif, keamanan nasional yang terpercaya dan pembangunan pertahanan negara Tri Matra terpadu yang dilandasi kepentingan nasional dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim.
2. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya, dengan memberikan prioritas pada upaya memulihkan kepercayaan publik pada institusi-institusi demokrasi dengan melanjutkan konsolidasi demokrasi melalui reformasi sistem kepartaian, pemilu, dan lembaga perwakilan.
3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.
4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.
5.Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program "Indonesia Pintar"; serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan program "Indonesia Kerja" dan "Indonesia Sejahtera" dengan mendorong land reform dan program kepemilikan tanah seluas 9 hektar, program rumah kampung deret atau rumah susun murah yang disubsidi serta jaminan sosial untuk rakyat di tahun 2019.
6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya.
7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.
8. Melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia.
9. Memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinnekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antarwarga.
(ARSIP LEMBAGA PENCERAH ANAK BANGSA(LPAB- M. SYAFRIL JULI 21016)

Tidak ada komentar: