Hari Tani Nasional ke-56 Tahun


Hari Tani Nasional dirayakan setiap tanggal 24 September, terutama oleh para petani di seluruh Indonesia. Tanggal 24 September ditetapkan sebagai pengingat bahwa pada tanggal itu tahun 1960, Presiden Republik Indonesia Soekarno menetapkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA 1960). Tahun ini, tanggal 24 September kita akan merayakan 55 tahun lahirnya Undang-undang Pokok Agraria No.5/1960, yang diperingati sebagai Hari Tani Nasional. Penetapan Hari Tani ini untuk terus mengingatkan kita bahwa petani adalah salah satu “soko guru” bangsa ini yang kerap dilupakan. Semangat dari UUPA No. 5/1960 ini bertujuan membongkar ketidak adilan struktur agraria yang akan dan membawa kemakmuran bagi rakyat Indonesia yang sebagian besar bergantung pada sektor pertanian. Semangat yang masih relevan hingga hari ini. Begitu besarnya perlindungan terhadap petani dalam undang-undang ini dengan menegaskan bahwa tanah-tanah pertanian ditujukan dan diutamakan bagi mereka yang menggarapnya, tapi apa kenyataannya?, sudah diperuntukkan untuk perkebunan-perkebunan asing , tambang, dll.

Penetapan UUPA dapat dipandang sebagai tonggak sejarah paling penting dalam sejarah agraria di Indonesia. Struktur agraria warisan feodalisme dan kolonialisme di masa-masa awal revolusi kemerdekaan yang masih menjadi problem pokok yang membelenggu kaum tani Indonesia pada saat itu, oleh pemerintahan Soekarno berupaya dirombak, salah satunya melalui penetapan UUPA 1960. Kalau kita membuka literatur-literatur yang menjelaskan sejarah kelahiran UUPA 1960, maka akan terlihat dengan jelas, bahwa cita-cita yang melandasi ditetapkannya UUPA tidak lain untuk menciptakan pemerataan struktur penguasaan tanah yang diyakini akan mengangkat penghidupan kaum tani Indonesia. Bahkan, program landreform (pembaruan agraria) yang menjadi substansi dalam UUPA 1960, oleh Bung Karno sendiri dalam banyak kesempatan, selalu disebut sebagai satu bagian mutlak dari Revolusi Indonesia !. Atas dasar komitmen itu pula Bung Karno kemudian, melalui Keputusan Presiden No. 169 Tahun 1963, menetapkan hari kelahiran UUPA 1960 sebagai Hari Nasional Petani Indonesia. t:
KONSEP KETAHANAN PANGAN

Definisi Ketahanan Pangan ketahanan pangan , didefinisikan sebagai kondisi yang terjadi apabila semua orang secara terus menerus, baik secara fisik, sosial, dan ekonomi mempunyai akses untuk pangan yang memadai/cukup, bergizi, dan aman, yang memenuhi kebutuhan pangan mereka dan pilihan makanan untuk hidup secara aktif dan sehat.
Konsep ketahanan pangan di Indonesia didefinisikan dalam UU No. 7 Tahun 1996 tentang Pangan dan PP No. 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Pengertian pangan dalam UU dan PP tersebut adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman. Ketahanan pangan merupakan isu strategis yang dicanangkan secara nasional dan merupakan kewajiban negara untuk mewujudkannya. Ketahanan pangan ada tiga alasan penting yang melandasi kesepakatan tersebut:

1.   Ketahanan pangan merupakan prasyarat bagi terpenuhinya hak asasi atas pangan setiap penduduk;

2.   Konsumsi pangan dan gizi yang cukup merupakan basis bagi pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas; dan

3.   Ketahanan pangan merupakan basis bagi ketahanan ekonomi, bahkan bagi ketahanan
nasional

Ketahanan pangan di setiap negara dibangun di atas ada tiga hal yang menjadi perhatian :

1.Ketersediaan Pangan,
Adalah tersedianya pangan secara fisik di daerah, yang diperoleh baik dari hasil produksi domestik atau impor. Ketersediaan pangan ditentukan dari produksi domestik, masuknya pangan melalui mekanisme pasar, stok pangan yang dimiliki pedagang dan pemerintah, serta bantuan pangan baik dari pemerintah maupun dari badan bantuan pangan.  

2.Akses Pangan,
Adalah kemampuan rumah tangga untuk memperoleh cukup pangan baik yang berasal dari produksi sendiri, pembelian, barter, hadiah, pinjaman, dan bantuan pangan maupun kombinasi di antara kelimanya. Ketersediaan pangan di suatu daerah mungkin mencukupi, akan tetapi tidak semua rumah tangga memiliki akses yang memadai baik secara kuantitas maupun keragaman pangan melalui mekanisme tersebut di atas

3.Pemanfaatan Pangan,
Merujuk pada penggunaan pangan oleh rumah tangga dan kemampuan individu untuk menyerap dan memenfaatkan sehingga mempunyai nilai ekonomis  

Kondisi Kerawanan Pangan dapat bersifat kronis atau sementara.

Kerawanan pangan kronis,  adalah ketidak mampuan jangka panjang atau yang terus menerus untuk memenuhi kebutuhan pangan minimum. Keadaan ini biasanya terkait dengan faktor struktural yang tidak dapat berubah dengan cepat seperti iklim setempat, jenis tanah, sistem pemerintahan daerah, kepemilikan lahan, hubungan antar etnis, tingkat pendidikan, dll.

Kerawanan pangan sementara, adalah ketidak mampuan jangka pendek atau sementara untuk memenuhi kebutuhan pangan minimum. Keadaan ini biasanya terkait dengan faktor dinamis yang berubah dengan cepat seperti wabah , bencana alam, pengungsian dan berubahnya pola  fungsi pasar
 
Citra Indonesia Sebagai Negara Agraris

Letak Geografis Indonesia Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dengan ribuan pulau dan luas daratan sekitar 1.922.570 km persegi memiliki potensi pengembangan lahan pangan yang sangat besar dan sangat banyak wilayah yang belum dieksplorasi dengan baik yang dapat dijadikan potensi sumber keamanan pangan di masa depan. Potensi sumber pangan yang beragam dan letak geografis Indonesia di jalur khatulistiwa menyebabkan Indonesia relatif aman dari dampak global climate changes
.
Citra Indonesia sebagai negara agraris dapat mengembalikan semangat dan ingatan bangsa Indonesia bahwa bangsa ini dikaruniai oleh negeri yang makmur “gemah ripah loh jinawi” dan pernah dikenal dari keragaman hasil-hasil pertanian itu sendiri. Hal itu yang memicu Indonesia untuk optimis melakukan swasembada pangan di tahun 2014, dan berusaha mengikis cap sebagai
negara agraris yang aktif mengimpor pangan”, bahkan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
maupun gizi keluarga sangat penting untuk membangun kesadaran ketahanan pangan Indonesia.

Permasalahan kekinian tentang pertanian 

a) Menurunnya Tren Profesi di Bidang Pertanian
Meningkatnya lulusan perguruan tinggi Indonesia terutama dari fakultas pertanian tidak sebanding dengan profesi di bidang pertanian yang digeluti.
Masyarakat cenderung menilai profesi “petani”
sebagai profesi yang tidak bernilai dan tidak menjanjikan. Oleh karena itu, sektor pertanian semakin ditinggalkan dan inovasi di bidang pertanian juga tertinggal. Sektor pertanian Indonesia masih didominasi oleh masyarakat pedesaan, yang mewariskan lahannya secara turun temurun
 –
 dan pada suatu kondisi akan tetap berbenturan pada pilihan apakah generasinya akan melanjutkan atau beralih ke jalur lain.

b) Lemahnya Infrastruktur Pertanian
Kurangnya akses terhadap infrastruktur menyebabkan “kemiskinan lokal”, dimana masyarakat yang tinggal di daerah terisolir atau terpencil dengan kondisi geografis yang sulit dan ketersediaan pasar yang buruk, sehingga kurang memiliki kesempatan ekonomi dan pelayanan jasa yang memadai, serta harus menanggung harga yang lebih besar untuk pemenuhan kebutuhan pangan. Lemahnya infrastruktur pertanian pasca era otonomi daerah karena pertanian saat ini menjadi kewenangan dari pemerintah daerah. (mendorong penanaman modal swasta berkelanjutan pada sektor pertanian merupakan hal penting untuk mendukung infrastruktur daerah).

c Bencana Alam
Bencana alam merupakan salah satu sebab utama kerawanan pangan sementara. Indonesia adalah salah satu negara yang paling rawan terhadap bencana alam nasional tersebut memiliki lebih banyak jenis kejadian bencana daripada database CRED dan termasuk kejadian tingkat besar kecilnya bencana yang meliputi angin topan, banjir, kekeringan, letusan gunung berapi, gempa bumi, Tsunami, tanah longsor, abrasi pantai, epidemik, hama tanaman, kebakaran hutan dan pemukiman. Kejadian bencana Tsunami di Aceh pada 2004 telah menyebabkan lebih dari 128.000 orang meninggal serta menyebabkan kerugian yang sangat besar pada sektor ekonomi. Kejadian bencana alam paling sering terjadi di Jawa Tengah, kemudian diikuti oleh Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

d) Fluktuasi Curah Hujan
Variasi curah hujan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik global, regional maupun lokal. Faktor global antara lain adalah fenomena El Nino, La Nina, dan Dipole Mode, sedangkan faktor regional antara lain Sirkulasi Monsun, Madden Julian Oscillation (MJO), dan suhu muka laut perairan Indonesia. Sementara itu faktor lokal yang berpengaruh adalah ketinggian tempat, posisi bentangan suatu pulau, sirkulasi angin darat dan angin laut, serta tutupan lahan suatu wilayah. Pengaruh dari iklim yang ekstrim pada musim hujan menyebabkan banjir dan pada musim kemarau menyebabkan kekeringan. Iklim juga dapat menyebabkan perkembangan organisasi pengganggu tanaman secara eksplisit (OPT). Dengan adanya banjir, kekeringan dan OPT dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak sempurna dan mungkin menyebabkan gagal panen. Daerah puso didefinisikan sebagai suatu daerah produksi pangan yang rusak karena disebabkan oleh bencana alam (banjir, kekeringan, longsor) dan penularan hama oleh OPT. Secara nasional kerusakan tanaman padi akibat banjir sebesar 1,17% di tahun 2006 dan 0,82% di tahun 2007. Pada periode yang sama secara nasional kerusakan tanaman padi akibat kekeringan sebesar 0,68% di tahun 2006 dan 0,48% di tahun 2007. Selama periode dua tahun tersebut, Jawa Barat merupakan daerah yang paling banyak mengalami kerusakan.

e) Deforestasi Hutan
Indonesia merupakan salah satu negara mega biodiversiti yang terletak dalam lintasan distribusi keanekaragaman hayati benua Asia dan Australia serta daratan Wallacea. Indonesia memiliki hutan tropis ketiga terluas di dunia sehingga sangat penting peranannya sebagai bagian dari paru-paru bumi serta menstabilisasi iklim global. Luas kawasan hutan Indonesia termasuk perairan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan serta Tata Guna Kesepakatan (TGHK) adalah sebesar 137,09 juta ha. Ketergantungan masyarakat terhadap hutan masih cukup tinggi terutama masyarakat yang berada di dalam dan sekitar hutan untuk memenuhi kebutuhan akan lahan pertanian dan sumber penghidupan lainnya. Perkembangan pembangunan meningkatkan laju deforestasi hutan dimana hutan mulai beralih fungsi akibat adanya isu pembalakan liar dan pembukaan lahan kelapa sawit yang semakin luas sebagai salah satu ancaman dalam keanekaragaman hayati dan ketahanan pangan.
Praktek kartel menguasai komoditas pangan nasional sudah berlangsung lama dan sangat merugikan produksi pangan nasional. Praktek kartel dianggap sebagai salah satu  game  dalam bisnis pangan di Indonesia. Kartel yang merupakan persekongkolan segelintir perusahaan sudah terjadi meluas di sektor pangan dalam negeri. Seperti contohnya kartel terjadi dalam impor pangan yaitu impor daging yang mayoritas dari Australia, bawang putih dari Tiongkok, dan bawang merah dari Filipina. Hal ini mengindikasikan dominasi impor yang sangat besar dan hanya dalam satu negara saja. Ada enam komoditas yang telah dikuasai kartel antara lain daging sapi, daging ayam, gula, kedelai, jagung, dan beras. Bila dirinci, perkiraan kebutuhan konsumsi nasional dengan nilai potensi kartel pada kebutuhan
 
Gambaran seperti itu diakibatkan karena penataan manajemen pangan nasional yang sangat lemah dari aspek produksi, distribusi, dan perdagangannya. Terbongkarnya praktik suap impor daging sapi membuktikan permasalahan yang terjadi di Kementerian Pertanian sudah sangat serius. Tingginya harga bawang putih dalam beberapa waktu terakhir di Indonesia, merupakan puncak masalah akibat dari hancurnya sistem bernegara dan berpindahnya kekuasaan negara ke tangan kartel, mafia, dan sindikat pangan. Akibatnya, negara tidak lagi dapat mengontrol harga. Pasokan bawang putih sepenuhnya dikuasai sindikat yang bekerjasama dengan oknum pemerintahan. Hal inilah yang mendorong melangitnya harga bawang putih hingga mencapai Rp 70.500 per kilogramnya pada pertengahan tahun 2013. Kebijakan pemerintah melalui peraturan kebijakan impor yang menguntungkan importir akan dimanfaarkan oleh importir nakal untuk menahan pasokan dan memainkan harga pangan.
Mustahil tercipta ketahanan pangan kalau suatu bangsa dan rakyatnya tidak memiliki kedaulatan atas proses produksi dan konsumsi pangannya.
Sebagian besar pertanian Indonesia masih dikelola oleh sistem konvensional yang sangat besar mengalami risiko gagal panen akibat pengaruh iklim, banjir, atau kekeringan. Risiko ini dapat diminimalkan dengan pengimplementasian teknologi pertanian yang dapat mengurangi risiko alam dan  juga mempercepat masa waktu panen. Modernisasi pertanian baik untuk menghasilkan bahan pangan organik, efisiensi biaya dan waktu, dan diversifikasi pangan sangat penting untuk meningkatkan ketahanan pangan dan nilai produk pertanian, tetapi masih sering diabaikan


 
9. Pemberian Insentif kepada Petani
Tulang punggung ketahanan pangan adalah petani. Pemerintah perlu memberikan insentif dan fasilitas-fasilitas peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan kepada petani karena mereka yang paling terlibat dalam produksi dan ketahanan pangan nasional dengan memberikan harga yang menguntungkan bagi petani.

10. Penguatan Kelembagaan
Di tingkat paling dasar pemerintah dan BULOG beserta jajarannya di daerah wajib melaksanakan tugasnya sebagai penyangga, yaitu melaksanakan pengadaan beras, membeli gabah petani sesuai harga dasar (HPP), kebijakan tarif, pemberantasan mafia pangan, pembangunan infrastruktur, sistem perbankan, dan riset. Semangat otonomi daerah juga harus dijadikan modal utama untuk segera melakukan desentralisasi manajemen stok beras.

11. Arah Kebijakan Zero Impor
Dengan arah kebijakan zero impor akan mendorong optimalisasi dan peningkatan produksi serta mengefektifkan peran dan fungsi BULOG untuk menyerap hasil produksi petani. Memang sering terjadi polemik di antara beberapa pemangku kebijakan tentang hasil produksi, namun hakim yang paling objektif adalah harga. Jika harga beras terlalu tinggi melampaui harga kenaikan yang wajar, merupakan indikasi kuat adanya kelangkaan barang.

12. Mempromosikan dan Mengampanyekan Diversifikasi Pangan
Kegiatan ini harus dilaksanakan secara masif dan intensif dalam bentuk iklan-iklan atau program-program yang komunikatif dibarengi pula inovasi-inovasi dalam memproduksi makanan-makanan alternatif yang berbahan baku komoditas pangan lokal lain.
D. Kontroversi Swasembada Beras
Selain optimisme, swasembada beras juga memicu beberapa kontroversi dari berbagai pihak, antara lain:

 
Selain itu, ada dugaan bahwa dengan mengutamakan produksi beras, Indonesia akan tertinggal dalam produksi pangan lainnya, meskipun sesungguhnya permintaan dalam negerinya meningkat, seperti halnya dengan permintaan beras nasional. Defisit produksi nasional yang terjadi akan menjadi pasar ekspor yang empuk bagi surplus produksi pangannya. Sejatinya, hal inilah yang merupakan penjelasan mengapa Indonesia saat ini sangat tergantung pada pasar import pangan non beras, seperti jagung dan kedelai.

Kesimpulan

Di balik kontroversi terkait pencanangan swasembada beras, upaya pemerintah perlu didukung secara optimis dan diapresiasi. Melihat kondisi Indonesia saat ini, komitmen untuk mewujudkan swasembada beras menjadi keharusan karena swasembada adalah pilar kedaulatan pangan. Berdaulat pangan tidak hanya berarti bahwa setiap saat pangan tersedia dalam jumlah yang cukup, mutu yang layak, aman dikonsumsi, dan harga yang terjangkau oleh masyarakat. Namun, lebih jauh dari itu berdaulat pangan juga berarti memiliki kemandirian dalam memproduksi pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri serta meningkatnya taraf hidup dan kualitas hidup petani pangan sebagai penghasil. "Selamat Hari Tani Nasional untuk seluruh petani Indonesia! Terima kasih atas dedikasinya dalam memberikan hasil tani berkualitas terbaik. :)."
"Bung Karno pernah berkata "Hidup matinya sebuah negara, ada ditangan sektor pertanian negeri tersebut”. Selamat Hari Tani Nasional."

ARSIP LPAB (M. Syafril ,  01-09-2016)

Tidak ada komentar: