Refleksi Kegalauan Indonesia



Indonesia akhir-akhir ini. setelah beberapa waktu dilanda Musibah Gunung Merapi yang meletus, kini kasus korupsi, pelanggaran hak-hak asasi manusia sampai beberapa skandal pejabat Negara mewarnai televisi hampir setiap hari. Tak hanya itu, kemiskinan yang merajalela, tidak adanya supremasi hukum sampai yang lebih parah lagi korupsi besar-besaran yang dialami yang suka tidak suka telah meracuni generasi muda di televisi setiap hari menjadi catatan kelam yang membuktikan Indonesia hari ini tidak sehat. Di bidang agama, banyak terjadi kekerasan yang membawa symbol-simbol agama tertentu. Berbicara tentang Indonesia, tak usah diragukan lagi alam dan potensi yang terkandung didalamnya.
Tuhan seakan berlebih dalam memberi kekayaan terhadap negeri yang mayoritas berpenduduk muslim-sunny ini. namun demikian, pemimpin dan rakyatnya belum bisa mengolahnya secara maksimal-proporsional untuk kemakmuran seluruh tumpah darahnya. Di Indonesia ini, semua ada.Hamparan sawahnya menjadi panorama indah yang menenangkan hati. Keramahan rakyatnya menjadi perhatian seluruh penjuru dunia. Namun demikian, modal sosial tersebut sekali lagi belum mampu diserasikan dan diselaraskan dengan keadaan sehingga cita-cita masyarakatnya untuk hidup tenteram itu pun masih sulit tercapai. Ditengah kegalauan masyarakat yang demikian hebatnya, untung Indonesia masih memiliki pemimpin yang sesungguhnya diangkat melalui pemilihan secara demokrasi .
Mengingat era modernisme yang ditandai dengan cepatnya arus informasi dan komunikasi ini dunia seakan tak punya sekat. Globalisasi benar-benar membawa nilai-nilai yang regressif bagi tatanan masyarakat Indonesia.. Sekat dan fiksi yang terlalu banyak di Indonesia baik berupa partai, agama maupun organisasi social harus bersatu padu untuk bangkit dari keterpurukan. semua masyarakat harus bergandeng tangan seperti para funding father kita dulu dalam mencapai kemerdekaan. Sokarno, Hatta, KHWahid Hayim, H Agus Salim, Ki Bagus Hadikusumo, AA Maramis dan kawan-kawannya memiliki pemahaman dan konsepsi yang berbeda dalam membangun Indonesia. Namun demikian, mereka tetap “duduk bersama untuk kemajuan bersama”. Bedanya sekarang dengan dulu adalah, kalau dulu mereka duduk bersama untuk kemajuan bersama, namun sekarang “duduk bersama untuk kemajuan atau kepentingan kelompok masing masing”. Demikian sedikit refleksi catatan hari ini, sambil menghilangkan keringat yang masih menempel di dada. kecil daripada berlarut dalam kegelapan. Hal yang kulakukan adalah mempersiapkan generasi muda dengan suatu wadah organisasi untuk kemudian dibina, agar supaya kelak menjadi pengganti kepemimpinan yang baik, amanah, adil, jujur, bijaksana dan mengayomi.

KAUKUS PEMBARUAN

Tidak ada komentar: