Refleksi Nasionalisme Kita (1945 – 2013)


Tanggal 10 November dikenal dengan Hari Pahlawan, di mana peringatannya ditujukan pada perjuangan dan pengorbanan arek-arek Suroboyo dalam pertempuran dengan pasukan Inggris. Pertempuran itu dipicu penolakan ultimatum yang diberikan pasukan Inggris agar pejuang Indonesia menyerah sebelum pagi tanggal 10 November 1945. Inggris mengultimatum sebagai buntut perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato oleh arek-arek Suroboyo.

23 Tahun kemudian pada bulan yang sama, Presiden Sukarno mengguncang dunia dengan membuat tandingan dari Olimpiade Tokyo, yakni penyelenggaraan GANEFO (Games of the New Emerging Forces). Penyelenggaraan GANEFO dipicu kemarahan Sukarno akibat skorsing Komite Olimpiade Internasional (KOI) pada Indonesia dalam Olimpiade Tokyo karena Sukarno melarang Israel dan Taiwan mengikuti Asian Games 1962 di Jakarta. Larangan ini merupakan bentuk dukungan Indonesia pada Republik Rakyat China (RRC) dan Negara-negara Arab yang sedang berkonflik dengan Taiwan dan Israel, padahal Taiwal dan Israel adalah anggota resmi PBB.

GANEFO sukses diselenggarakan
Apa yang kita tangkap dari dua peristiwa besar di atas adalah:
1. Bagaimana rakyat (dalam peristiwa Surabaya) dan pemimpin bangsa (dalam peristiwa GANEFO) memandang nasionalisme sebagai harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Persoalan keberhasilan adalah urusan belakang, yang penting nasionalisme itu mesti diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekedar slogan semata.
2. Peristiwa GANEFO  mengajarkan kita akan nilai-nilai kepahlawanan. Bahwa pahlawan adalah keberanian menyatakan kebenaran dan membelanya sampai titik darah penghabisan benar-benar dilakukan oleh arek-arek Suroboyo dan Sukarno dulu. Pahlawan tidak peduli siapa yang dilawan dan apakah ia mendapat keuntungan dari sikapnya itu.
NASIONALISME KEKINIAN
Telah berpuluh-puluh tahun kita merdeka, rasa nasionalisme dan kepahlawanan cenderung menjadi simbol semata yang kurang makna dan sulit diwujudkan. GANEFO kini hanya berwujud tugu di lokasi api abadi Mrapen dan  perjuangan arek-arek Suroboyo mewujud sebatas adanya hari besar nasional. Adakah keinginan, misalnya, pada para petinggi KONI untuk kembali mewujudkan nasionalisme dalam bidang olahraga dengan menyelenggarakan kembali GANEFO dan memunculkan Indonesia sebagai ikon olahraga dunia?
Banyak pihak menyatakan bahwa nasionalisme kita diujung tanduk. Kedaulatan kita sebagai bangsa yang besar seolah tidak tampak lagi di mata dunia Internasional. Indonesia seolah menjadi sasaran empuk imperialisme modern. Ada negara yang menancapkan kolonialisme mereka dalam bidang ekonomi dengan menyetir penuh kebijakan perekonomian kita yang berpihak pada asing dan membuat kamuflase kebijakan pro-rakyat.
Secara budaya kita juga terjajah. Klaim-klaim negara tetangga “mantan sahabat” kita akan budaya-budaya bangsa juga merupakan bentuk imperialisme.
Padahal, jauh sebelum Indonesia merdeka, nusantara sudah berdaulat. Ketika Meng Chi—utusan Kaisar Kubilai Khan—dari Mongol membawa perintah membayar upeti, Kertanegara Raja Singosari memotong daun telinganya dan mengusirnya pergi. Sebuah tindakan yang berbuah kemarahan penguasa Asia Tengah yang akhirnya mengirimkan armada 1000 kapal perang dengan 20.000 pasukannya. Pasukan yang mendarat di Pantai Tuban ini akhirnya ditipu oleh Raden Wijaya dan membuat kekalahan besar Mongol oleh Singosari.
Di tengah gempuran imperialisme modern dengan segala mutasi bentuk-bentuknya, sungguh nasionalisme kita perlu dikaji ulang. Kadaulatan bangsa mesti diletakkan diatas segala kepentingan lain, kita jangan takut kepada negara asing yang memiliki tendensi imperialis dalam tipu muslihat dibalik bantuan-bantuannya.
Ada baiknya kita kembali menghayati slogan yang dikumandangkan Sukarno saat menghelat GANEFO (Games of New Emerging Forces) sebagai bentuk perlawanan dan ketegasan
 Pada tahun 1961, Bung Karno menelorkan konsepsinya dalam memandang dunia, yaitu soal Nefo (The new emerging Forces) dan Oldefo ( The Old Esthablished Forces), dan mempertentangkannya sebagai kontradiksi yang tak-terhindarkan (terdamaikan). mewakili kekuatan baru yang sedang tumbuh, yaitu :
Negara-negara Asia, Afrika, Amerika Latin yang berusaha bebas dari neo-kolonialisme dan imperialisme serta berusaha membangun tatanan dunia baru tanpa exploitation l,homme par I’homme, sementara “Oldefo”  mewakili negeri-negeri imperialis dan kekuatan lama yang semakin dekaden.
Setelah era perjuangan fisik untuk pembebasan nasional, Soekarno pada tahun 1957, disebut juga tahun penentuan, telah menandaskan bahwa nation building memerlukan revolusi mental. Segera setelah itu, Bung Karno telah berkeyakinan bahwa, selain olahraga sebagai alat pembentuk jasmani, olahraga adalah alat pembangun mental dan rohani yang efektif.
Ketika kita mendengar kata julukan putra sang fajar, singa podium dan pemimpin besar revolusi, ingatan kita pasti hanya tertuju kepada Bung Karno. Selain julukan-julukan tadi, Bung Karno juga diujuluki dengan “Manusia besar dengan gagasan besar”. Ciri-ciri dan kriteria manusia besar pada Bung Karno terlihat dari peninggalannya yang kekal. Ideologi Pancasila, Marhaenisme, Semangat Nasionalisme serta peninggalan dan karya besar Bung Karno (Bangunan-bangunan hasil karya seni dan arsitektur) masih bisa rasakan dan lihat hingga saat ini. Dia tidak hanya tokoh berskala nasional, akan tetapi dia masuk jajaran tokoh internasional yang berpengaruh.
Semasa berkuasa, banyak cerita tentang pembangunan bangunan-bangunan mercusuar yang dilakukan oleh Bung Karno. Pembangunan bangunan-bangunan itu tidak hanya berlandaskan keinginan ego pribadi semata tetapi semua pembangunan itu punya makna. Bangunan-bangunan yang dibangun itu tidak hanya sebagai output karya seni dan arsitektur semata, tetapi bangunan tersebut merupakan simbol-simbol jati diri bangsa, politik internasional, kepribadian bangsa dan bangsa Indonesia itu sendiri.
Pembangunan gedung conefo (Conference of The New Emerging Forces) ini dilatarbelakangi oleh gagasan Bung Karno tentang hakikat non-blok yang memiliki filosofi tinggi. Bung karno menginginkan Indonesia dan Conefo menjadi salah satu kekuatan dunia yang diperhitungkan. Gagasan Bung Karno ini juga bagian dari penerjemahan cita-cita kemerdekan Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD’45. Pada saat meyakinkan pembangunan gedung ini Bung Karno mengatakan ”Gedungnya tidak selesai tidak jadi apa. Asal conefonya berjalan terus. Sebab bagiku, Conefo adalah sesuatu yang vital. Jikalau kita benar-benar setia kepada deklarasi kemerdekaan kita, jikalau kita benar-benar setia kepada apa yang tertulis di dalam pembukaan UUD kita, UUD‘45 yang selalu kita katakan harus kita junjung setinggi-tingginya, maka kita mengerti bahwa Conference of the New Emerging Forces adalah perlu”.
Selain penerjemahaan cita-cita kemerdaan Indonesia, gagasan Bung Karno untuk melaksanaan Conefo bertujuan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia pantas menjadi pusat dunia keempat yang pantas diperhitungkan setelah blok barat, blok timur dan RRC.
Dalam pembangunan ekonomi, Bung Karno senantiasa menekankan kemandirian dan percaya pada kekuatan sendiri (self help and self relience). Diawali dengan kebijakan progresifnya untuk mendirikan Bank Indonesia (BI) pada 15 Desember 1951 dengan nasionalisasi De Javasche Bank atau Bank Java. Kemudian pada tahun 1962 membangun land markindustrialisasi raksasa pertama di Indonesia dan bahkan di Asia Tenggara, yaitu Pabrik Baja Trikora (menjadi  Krakatau Steel dan sekarang…..?) yang merupakan mother of industry di Cilegon. Sebagai mother of industry, pabrik baja memiliki peran penting sebagai dasar pembangunan dan perkembangan berbagai jenis industri lain seperti telokomunikasi, transportasi, elektronik dan industri lainnya. Dan saat ini, pabrik baja trikora yang telah dibangun oleh Bung Karno sebagai salah satu pondasi bagi industri lain sudah tidak lagi dimiliki penuh oleh negara. Padahal Bung Karno pernah berkata ” ingat, produksi, ekonomi adalah perutnya Negara”. Maka itu jamak lumrahlah kalau kaum reaksioner mengkonsentrasikan sabotasenya kepada perut negara lain”. Kalau sudah begini, kita tidak hanya bisa berharap industri dan negara kita tetap bisa berdaulat dan merdeka di tanahnya sendiri.
Setelah era perjuangan fisik untuk pembebasan nasional, Soekarno pada tahun 1957, disebut juga tahun penentuan, telah menandaskan bahwa nation building memerlukan revolusi mental. Segera setelah itu, Bung Karno telah berkeyakinan bahwa, selain olahraga sebagai alat pembentuk jasmani, olahraga adalah alat pembangun mental dan rohani yang efektif.
Karenanya, olahraga dapat dijadikan salah satu alat untuk membangun bangsa dan karakternya (nation and character building).
Semoga kita bisa memahami makna  ini dengan baik dan memahami bahwasannya perjuangan  kala merebutkan dan memperjuangkan kemerdekaan tak bisa dipandang sebelah mata. Semoga kita bisa belajar akan sejarah dengan baik dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dalam berbangsa dan bernegara.

(Redaksi LPAB- Oktober-2013)


Tidak ada komentar: