“Sebuah model baru untuk berpolitik”





 Kesantunan adalah ukuran politik yang berbahaya. Kesantunan dapat menyembunyikan semacam otoritarianisme baru yang halus dan hegemonik. Pemimpin otoriter dapat mengaburkan otoritarianismenya dengan kesantunan sehingga rakyat pun menjadi bimbang untuk segera memberikan penilaian.
(Dr.Donny Gahral Adian, M.Hum)
Menjadi model bagi elit politik fleksibel, terbuka terhadap ide-ide baru, bersedia untuk menyadari bahwa  bagi pemerintah seperti direplikasi pada tingkat di antara politik dan tanggung jawab pribadi .
Dan partai harus meninggalkan antara idealisme dan politik secara lokal mungkin cenderung mendominasi

Belakangan, dinamika politik dirasakan sudah berlebihan. Agar para elit politik , legislative, excecutive dan yudicative kembali “ diingatkan “  untuk berpolitik secara santun. Kesantunan, adalah erae baru interaksi politik guna membuatnya lebih beradab.
Politik pun direduksi menjadi tata krama seperti saat kita duduk bareng di meja makan.

Masalahnya  kesantunan sering dipakai untuk menyembunyikan kebohongan. Kesantunan adalah halaman depan yang membuat rusaknya moral menjadi topeng  dan menjadi sangat berbahaya. Puluhan tahun kita sudah disandera oleh kesantunan, Sejarah tidak boleh terulang lagi.

Politik santun yang dipelopori pemimpin masa kini menyebar bak virus ke hampir semua pemimpin republik. Semua sibuk mematut diri di depan cermin guna menyedot dukungan publik. Kebijakan pun kehilangan substansi. Pengambil kebijakan sibuk memoles diri sehingga kebijakan yang keliru tidak teraba oleh rakyat.

Otoritarianisme Baru

Kita sering menganggap otoritarianisme sebagai sesuatu yang bengis dan tegaan. Filsuf Machiavelli berbicara soal virtu sebagai karakter yang wajib dimiliki pemimpin otoriter. Virtu adalah sederet karakter pribadi yang diperlukan pemimpin untuk mempertahankan kekuasaan.
Demi kekuasaan, pemimpin harus mampu bertindak sesuai situasi. Dalam situasi bahaya (fortuna), pemimpin harus bertindak trengginas. Ketika situasi teratasi, pemimpin kembali bersikap etis, mengambil hati rakyat yang tercederai.
Bertolak dari Machiavelli, kesantunan dapat dibaca sebagai indikasi dosa-dosa politik. Semakin santun seorang pemimpin semakin banyak dosa politik yang ingin disembunyikan. Kesantunan ibarat topeng moral yang menyembunyikan anti-moral. Semakin tebal topeng kesantunan semakin tinggi kecurigaan kita. Kesantunan ibarat purgatori yang diniatkan untuk membasuh dosa-dosa politik. Kesantunan tidak sekadar membersihkan masa lalu, tetapi sekaligus mengamankan masa depan. Ketika dosa politik kembali dilakukan, maka itu segera dinetralkan oleh ingatan kolektif tentang kesantunan sang pendosa. Ini mengapa kita sering mendengar seorang berkata, ”Dia memang bermasalah, tetapi orangnya santun.”
Kesantunan adalah ukuran politik yang berbahaya. Kesantunan dapat menyembunyikan semacam otoritarianisme baru yang halus dan hegemonik. Pemimpin otoriter dapat mengaburkan otoritarianismenya dengan kesantunan sehingga rakyat pun menjadi bimbang untuk segera memberikan penilaian. Kelas menengah yang tercerahkan mungkin tetap kritis. Namun, sebagian besar rakyat kita mudah sekali tersihir oleh politik santun yang meninabobokan. Politik santun ibarat opium hingga rakyat tak melihat realitas politik direpublik ini sangat muram. Sederet dosa politik merentang sudah .

Bak Virus

Politik santun yang dianut menyebar bak virus ke hampir semua pemimpin republik. Semua sibuk mematut diri di depan cermin guna menyedot dukungan publik. Kebijakan pun kehilangan substansi. Pengambil kebijakan sibuk memoles diri sehingga kebijakan yang keliru tidak teraba rakyat. Semua berlomba menjadi satu napas dengan rakyatnya. Ada wali kota yang naik motor ke kantor. Ada pula yang beralih profesi menjadi penjaga pintu tol. Ruang publik kita pun berubah menjadi galeri kesantunan.
Akibatnya, demokrasi pun direduksi menjadi ”tontonan kepribadian”. Konsultan politik menjadi insinyur-insinyur kepribadian yang militan. Kebijakan memang tetap menjadi tolok ukur. Namun, rakyat lebih ingat kesantunan ketimbang kebijakan. Ini menjadi peluang bagi lembaga survei. Modusnya sederhana. Pertama survei obyektif untuk mendapat data akurat tentang popularitas dan elektabilitas. Data tersebut biasanya rendah. Kemudian, lembaga menawarkan rekayasa total untuk menaikkan popularitas dan elektabilitasnya. Dia adalah fungsi dari rekayasa kepribadian.

“Pemimpin dan kebijakannya ibarat tanah liat yang bisa dibentuk sekehendak hati. Substansi kehilangan makna dalam atmosfer politik sedemikian. Kita tidak lagi mempersoalkan apakah sebuah kebijakan bertentangan dengan konstitusi atau tidak”

(Arsip LPAB – Agustus 2013)

Tidak ada komentar: